Jumat, 11 Desember 2015

Semua karya di blog ini adalah karya Afnan Ray

Melati di Ujung Tombak

Kutatap bayangnya merekah
Memucat pasi di simpul senyumnya
Merebak harum kasihnya terurai
Beranjak perangai berpaling penuh
Terkulai lemah menghadap bara
Bisikannya menyayat kalbu menderu
Berdetak nafasnya tesengal
Kenapa wahai melati suci
Tak terpancar lagi kemilau menawan
Diujung tombak dia terkulai
Seakan layu meredup pilu
Mengapa memudar
Rapuh sendu
Mengapa begini
Entah siapa
Salah siapa

#12Desember2015

Minggu, 06 Desember 2015

Duh Lae

Pirang suwene nganti-anti
Sing dianti ra nguati
Duh lae
Gusti
Iki kepiye
Sajake ora sreg
Nanging raga iki kudu nglakoni
Ra nggenah
Judeg
Mangkel marang dalan urip
Kang dudu pangarep-arep

#6desember2015

Dag dig dug

Berdegup-degup
Bergemuruh
Detak laju
Sedikit sesak
Tertahan
Pikir melayang hati bimbang
Apa
Entah
Ingin tak peduli
Tapi terpikir setengah mati

#6desember2015

Selasa, 13 Oktober 2015

Bodoh

Gema gemuruh riuh menggelegar
Sontak terpejam pandangan pandangan hina itu
Wajahnya terpoloskan raut kesucian
Bodoh!!!
Kita ini memang bodoh
Dibodohi orang -orang bodoh
Bodohnya minta ampun
Diamlah kawan
Tunggu saja sekejap
Mereka seakan berpikir seakan kita terkapar
Mereka pikir kita ini orang negeri yang liar
Kita memang tak berpijar seperti mobil mewah yang berjajar
Hah,
Ini sandiwara kawan
Kau takkan pernah tahu persoalan
Cukup segepok uang kita terdiam
Ikuti saja permainanya
Seperti otak-otak mati yang disana
Kita ini memang bodoh
Mereka yang diatap sedang serius mengurus rakyat
Kita tak boleh mengganggu
Nanti bila terbangun bisa ngamuk didepan dewan
Huh kita ini bodoh
Sudah diberi santunan,tak banyak untuk mainan
Katanya jiwa nasional?
Senggol sedikit protes atasan
Hahaha kita kan sudah dipermainkan
Dilempar uang lagi sudah bingung berebutan
Gampang ditenangkan dengan lembar santunan
Selesailah semua urusan
Kita dan mereka sama saja
Otaknya mati karena uang
Hidup tak ingat dosa dan perbuatan
Asal uang tetap disalurkan
Aku bangga dengan kalian
Sungguh luar biasa membangun masa depan

#14Oktober2015

Senin, 12 Oktober 2015

Syair Pengirim Pesan

Selaju sampan tak laju ikan
Dayunglah dari darat selatan
Tak kunjung padam asa ditangan
Berseru senang hendak berkurban
Sebiji intan aku serahkan

Bila intan aku serahkan
Segenggam doa aku harapkan
Beri sedikit tak usah sungkan
Tidakpun beri aku lapangkan
Aku pun senang kau sudah segan

Bilakah selat tertutup awan
Dendang pelantun masih menawan
Bukannya gunung yang kau tampakan
Hanya selembar kertas tulisan
Bergores tinta dari selatan

Kertas tulisan darilah tangan
Tersusun rapi dengan menawan
Sampaikan pesan sampai tujuan
Sudah bertekad dari daratan
Menuju seberang pulau impian

Kalaulah lamban sampai tujuan
Asalkan pesan tak ditelan ikan
Aku berlabuh hingga tujuan
Berbekal restu dari pujaan
Bertekad harap bilapun sungkan

#12Oktober2015

Minggu, 11 Oktober 2015

Serdadu di Pelabuhan


Sentak berontak menerjang
Aku terseok menuju padu
Laskar merah putih tersungkur hancur
Aku tergopoh,roboh,berkokoh
Aku belum mati dari ajal
Ini sendu terdengar pilu
Tatap itu wahai lidah bercabang
Mereka mati karena seribu peluru
Dan kau mati karena sebilah bambu
Lihat tanganku yang bergetar-getar
Ingin menyambar layar berkibar-kibar
Lihat kakiku yang terseret debu
Ingin menyerbu garda busukmu
Aku mungkin mati tersedak tembak
Atau terinjak gerigi telapak
Ini urat masih gerak berserat
Bukannya sedang tahan sekarat
Tahukah engkau
Ini belum berakhir
Jantungku masih bedebar
Walau di tubuh telah mati
Di tanah ini masih kupendam dengan asa

#12Oktober2015

Datan Bisa Tresna

Hangrasa rasane ati
Tan bisa aku mandeg ing lakuku
Iki wes adoh saka uripku
Aku mung bisa anyawang wewayangmu
Nganti rabisa kanggoku sumelak saka cahyamu
Tansah katon suminar pasuryanmu
Iku tansah gumantil ing netraku
Duh kusuma sekaring ati
Coba mesema sak eseman wae
Esemu tansah nyepet madu
Krasa manis hananging kebak dening rasa nggresula
Aku datan bisa adoh saka telase lakumu
Aku ana mburimu datan bisa ketara
Nadyan ana sekar arum kang tansah sliramu puji
Aku datan bisa ngedangi
Aku iki mung manungsa kang ora bisa sliramu tresnani
Aku mung bisa ngalah lan ngelus dada
Nalika netes waspamu
Lan nora ana papan sesambatan
Aku ana lan setya angrungokake weluhmu

#12Oktober2015

Jumat, 09 Oktober 2015

Padang Lintang Rembulan

Saben dina mung nyawang lintang
Ngiwi-iwi katon cumlorot uyak-uyakan
Langite tansah padang
Katon sumilak ing ngawang-awang
Abyore lintang lan rembulan tansah nyawiji
Anggonku memuji marang Gusti ora bisa lali
Aku iki mung manungsa tanpa tata krama
Bisaku mung ngadang lakune dalan
Lan mbendung derese kali
Ora krasa atiku nadyan salah lakuku
Ing wengi iki aku tansah memuji
Mugawa antuka pangaksami
Duh Gusti bejane awak mami,

#05Oktober2015

Minggu, 04 Oktober 2015

Terpaling

Telah lama aku menghadapi ini
Sebelumnya tidak
Semenjak rayu dusta menghampiri
Aku terpukau terbujuk
Entah apa yang kudengar
Rasanya seperti getir kehidupan
Gaungnya menggema di sela telinga
Aku terpaling dari arahku
Aku terperosok dan teronggok
Bagai seutas tali yang putus dari rajutan
Aku tersesat dan tak kuat
Ingin sekarat tapi terpikat
Aku hanya terpaku akan nasibku
Entah apa jadi di kelak waktu
Aku tersipu

#04oktober2015

Jumat, 25 September 2015

Tertutup Sebelah

Entah apa yang terjadi
Seingatku hanya sebuah kisah
Kisah yang membuka kedua mataku
Namun hanya sekejap aku menghindar
Terlamun seketika aku mengingatnya
Inginku dapat tahu kisahnya lagi
Lalu mana ku tahu
Dikala itu aku tak sadar membacanya
Hanya sebelah saja
Sebait di kiri dan sebait lagi di kanan
Entah bagaimana kudapat tahu makna
Hanya sebelah ku melihatnya
Hanya terbuka dikiri
Dan tertutup dikanan
Samar tampak,tak masuk otak
Akupun muak

#26September2015

Tertutup Sebelah

Entah apa yang terjadi
Seingatku hanya sebuah kisah
Kisah yang membuka kedua mataku
Namun hanya sekejap aku menghindar
Terlamun seketika aku mengingatnya
Inginku dapat tahu kisahnya lagi
Lalu mana ku tahu
Dikala itu aku tak sadar membacanya
Hanya sebelah saja
Sebait di kiri dan sebait lagi di kanan
Entah bagaimana kudapat tahu makna
Hanya sebelah ku melihatnya
Hanya terbuka dikiri
Dan tertutup dikanan
Samar tampak,tak masuk otak
Akupun muak

#26September2015

Selasa, 22 September 2015

Nganti-anti

Godhong mlanding
Luminting ijo ing sakngisore pring
Tangeh lamun aku gumun
Ngenteni embun bakal tumurun
Ing pinggiring kali aku nyawang
Nyawang mlanding kang tansah semi
Godhonge tansah ra nguwati
Ati iki mung sawiji ngrasani
Ngarasa adem ing suwene wengi
Hawane anggeget lathi
Ing kulit iki anggawe risi
Aku tansah angenteni
Nganti embun tumurun ing jroning ati

Jumat, 18 September 2015

Datangnya Dari Khayangan

Ingatkah engkau
Dikala aku tergores belati
Belati yang sama
Diwaktu aku melintas tangga
Warnanya perak kemilau
Sedikit retak
Karena tertimpa bunga
Dari khayangan terjatuh pula
Aku terluka saat ini
Darahnya menetes 3 cawan
Bunga itu turun lagi
Menimpa belati
Semakin retak

#18September2015

Salah Arah

Terpikir
Begitu saja
Melintas tak bersapa
Ini bukan gurauan
Aku linglung
Jalan tertatih-tatih
Didepanku ada gunung
Di belakang sana jurang
Aku diam
Tapi memikirkan ini

#18september2015

Rabu, 16 September 2015

Pagi Itu Dari Kerumunan

Suasana sebelumnya terasa tenang
Aku terduduk bersama kawan
Bercerita tentang tajuk sama
Yang sedang ada dihadapan
Sekejap datang
Mereka tenang menjadi girang
Aku terlanjur tenang
Hap!!!!
Direnggut semua
Semua hilang
Tanganku hampa

#16september2015

Selasa, 15 September 2015

13.30

Panasnya menyengat
Keringat bercucuran
Duduk memojok depan kelas
Aku menunggu
Entah apa yang mereka tunggu pula
Waktu seakan terbuang
Hanya datang selembar kertas
Hurufnya tak beraturan
Tapi membawa pesan kerja
Penaku macet
Hanya terbata-bata tulisan menari
Lalu termenung
Dan melamun

#15September2015

Senin, 14 September 2015

Tirai Merah

Kupandang dihadapku
Tak terlalu indah
Sedikit koyak
Lapuk
Sinar lampu mampu menembus
Seratnya seakan pudar
Warnanya masih merah
Semerah biji delima
Namun tua
Tak renta tak lemah
Masih kuat terhempas angin
Aku memandangnya
Tirai merahku

#14September2015

Lintas Bayang.

Niatku bukan begini
Rasa hati seakan begitu
Jiwaku ingin guncang
Andaikan seribu jarum tertanam
Mungkin aku tak merasa
Untuk malam yang sendu senyap
Bisakah aku menoreh harap
Bukannya gila atau terluka
Aku hanya gelisah
Menanti jatuhnya bunga nurani
Andaikan sendu malam mampu iringi
Aku ingin sekejap berdendang pilu
Bukan senang tak kunjung padam

#14 september 2015

Jumat, 06 Maret 2015

Mari berkeroncong ria

TIPS MENYANYI LANGGAM JAWA DAN KERONCONG BAGI PEMULA

Keroncong merupakan musik khas bagi bangsa Indonesia,musik yang sudah ada sejak jaman dahulu tersebut,memang tak lekang oleh zaman.Apalagi sekarang sudah banyak dikolaborasikan dengan genre musik yang lain.Bagi pemula yang ingin belajar menyanyi keroncong ataupun langgam jawa,kali ini saya akan memberi sedikit tips yang terinpirasi dari diri saya sendiri secara otodidak.Berikut tipsnya!!!

1.Pengaturam Pernafasan
Nafas merupakan salah satu peranan penting dalam bernyanyi,jadi usahakan selalu melatihnya.Hal ini disebabkan karena musik keroncong ataupun langgam jawa memerlukan nafas yang panjang dalam bernyanyi.Hal ini bertujuan untuk memperindah suara yang kita hasilkan agar enak didengar.
Teknik pernafasan juga membantu kita dalam pengolahan pelafalan lirik lagu saat menyanyi agar terkesan teratur dan rapi.Sebelum menyanyi hindari kegiatan yang menguras banyak tenaga,agar saat menyanyi nafas tetap teratur rapi dan tidak ngos-ngosan.

2.Pengaturan Artikulasi
Dalam menyanyi keroncong dan langgam jawa pengucapan lirik juga harus di perhatikan.Dari beberapa pengamatan saya saat menyanyikan lagu keroncong terkadang artikulasi kurang terdengar jelas.Mungkin ini disebabkan oleh bait lirik yang harus diselesaikan dalam satu tarikan nafas,sehingga terdengar seakan terseret seret.Oleh karena itu,kita harus banyak melatih artikulasi misalnya mengucapakan A-I-U-E-O dengan mulut dibuka lebar seperti melakukan senam wajah,tetapi jangan menyanyi dengan mulut terlalu lebar ya saat membawakan lagu keroncong.Bawakan secara lembut dan mendayu-dayu,stabil dan jangan diseret-seret.

3.Pengaturan Vokal
Hal satu ini merupakan hal terpenting dalam bernyanyi keroncong.Setiap penyanyi keroncong memiliki ciri khas sendiri-sendiri.Misalnya pada cengkok,saya ambil contoh pada Gesang dan Mus Mulyadi,keduanya memiliki perbedaan.Bapak Gesang tidak terlalu banyak menggunakan cengkok,tetapi tetap terdengar merdu.Sedangkan Mus Mulyadi menggunakan banyak cengkok,kalau saya dengarkan kebanyakan cengkok ditambahkan pada akhir bait lagu sehingga terkesan indah dan mendayu-dayu.Saya sarankan buatlah model cengkok sendiri yang lebih sesuai dan pas dengan suara anda,dan pastikan tetap pada kaidah nada.Dan juga tambahkanlah vibrasi pada bait terakhir lagu secara halus dan teratur agar terdengar indah.

Nah,sekian tips sederhana yang bisa saya sampaikan semoga bermafaat!.





Senin, 19 Januari 2015

Welcome to my blog

Nama saya Afnan Ray,selamat datang di blog saya,tempat untuk mengeksplorasi hobby dan informasi.Welcome and enjoy it....:)