Upama sumunare embun enjang kui bisa tak gegem
Ati iki wus bisa marem marga padange
Wus suwe anggonku nandang petenge ati
Sepi tanpa warna katon
Mati krasa urip lan urip krasa mati
Kelangan rasa kang wus minggat mbuh menyang ngendi
Sabtu, 22 Juli 2017
Kelangan Rasa
Hanya Kisah
Aku lelah
Selalu kecewa terasa
Bahkan rasa syukurku terkubur tak tampak
Dimanakah keajaiban?
Mungkin hanya kisah
Senin, 17 Juli 2017
Takkan Terganti
Jangan kau gerus lagi
Benteng-benteng itu
Telah lama mereka berdiri
Kau tak usah koyakkan lagi sutra darah para pahlawanku
Ingin kau apakan lagi yang kau pijak ini
Kau tak suci
Dan kau tak akan pernah suci
Tak perlu kau tunjukkan yang kau anggap putih
Dunia ini berwarna
Tak akan bisa kau kelak pula
Sudahlah
Disini sudah mutlak jiwa dan raga
Jangan kau usik dengan angan tak logismu
Pertiwiku tak terganti hingga nanti
Kamis, 13 Juli 2017
Mozaik
Kepada binar cahya kutitipan
Segenggam lukisan usang yang teremah remah
Abstrak tak berupa
Hanya secuil tampak gambar jembatan bertali
Di ujung ujungnya telah sirna
Menanti dilekatkan pada mozaik asing
Bergabung membentuk prosa yang tak tahu akhirnya
Kembang Wijaya
Mbang kembang wijaya
Sawangen iluhku kang wus nilas tanpa rupa
Apa iki to sing arane dunya
Tanpa bisa nggayuh lintang sumunar
Aku mung bisa tratapan renyep
Duh mbang kembang
Selasa, 11 Juli 2017
Musnah
Aku melangkah hambar
Kosong ku tampak sekitar
Aku terlanjur kecewa dibuatnya
Terlalukah tinggi nyiur itu?
Atau terlalu tajamkah karang itu?
Kenapa rusukku terasa pecah
Terbelah merekah darah
Rasanya musnah dunia
Sekarat
Hasratku tlah remuk tak terhingga
Tak ku percaya lagi apa yang tersisa
Seperti jatuh dari rapuhnya untaian kayu susun
Menghujam tanah kering bebatuan
Aku sekarat dalam diam
Menanti kucuran air kembang setaman