Pugerati (Puisi Gerantes Ati)
Syair Curahan Hati
Selasa, 10 November 2020
.
Aku hanya ingin terlelap dan lupa
Di luar sana terlalu mengerikan
Terlalu cerah untuk mata yang terlanjur buram
Tak ada pula keadilan untuk jiwa-jiwa yang terluka
Sabtu, 10 Oktober 2020
Hujan
Hujan di malam temaram
Redup remang-remang memeluk puing-puing harapan yang tersisa
Bukankah aku juga punya hak untuk berbahagia?
Teteskan saja madu manis di sela-sela bibirku
Untukku sejenak tersenyum sambil termangu menatap ruang hampa
Sabtu, 03 Oktober 2020
Kelopak Teratai
Kau tetap menjadi kelopak-kelopak bunga teratai bagiku
Bila cinta sedingin itu untukku
Bahkan saat matahari runtuhpun
Aku dan engkau hanya menjadi buih-buih air di danau yang membeku
Rabu, 30 September 2020
Kuncup Daun Jati
Untuk hati yang mati
Andai yang kau persilakan adalah kelopak-kelopak bunga melati
Tak akan pula bahagiamu terhenti
Namun yang datang hanya bilah-bilah belati
Datang dan menyakiti
Andai noda merah ini dari kuncup daun jati
Pastilah gugurnya seperti tidur di atas pedati
Selasa, 29 September 2020
Untuk Dwarawati
Untuk apa berlagak tua?
Sedangkan tanganmu masih lengket berlumur mentega
Aku tak lupa engkau siapa
Si tengil behias bulu merak di sela-sela rambutnya
Aku hanya tak punya kuasa
Angkuh dan amarahku sudah suratan di Mandura
Membatu dan membara
Aku hanya tak punya kuasa
Matipun aku membeku di malam berpurnama
Selasa, 05 Mei 2020
Debu Gunung Kedelapan Belas
Meniup angin
Membakar api
Menyiram air
Seribu kalipun berburu dan terburu
Rasa itu sia-sia untuk pudar dan terlupakan
Postingan Lebih Baru
Postingan Lama
Beranda
Langganan:
Komentar (Atom)